Teori Belajar Kognitif

Selasa, 29 Mei 20121komentar



2. 1 Teori Belajar Kognitif Secara Umum
Teori kognitif dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata (skema bagaimana seseorang memersepsikan lingkungannya) dalam tahapan-tahapan perkembangan dan saat seseorang memperoleh cara baru dalam mempresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, bukan teori nativisme yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan.
(Thobroni, Mustofa. Belajar dan Pembelajaran: Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional, hal 93, Ar-Ruzz Media)
Teori kognitif berpendapat bahwa belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Lebih dari itu belajar adalah melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang bersinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan terpatah-patah, terpisah-pisah, tapi melalui proses yang mengalir, bersambung-sambung, dan menyeluruh. Ibarat sesesorang yang memainkan musik, tidak hanya memahami not-not balok pada partitur sebagai informasi yang saling lepas dan berdiri sendiri, tapi sebagai suatu kesatuan yang secara utuh masuk ke dalam pikiran dan perasaannya. Selain itu, dalam psikologi kognitif, manusia melakukan pengamatan secara keseluruhan lebih dahulu, menganalisisnya, lalu mensintesiskannya kembali. Konsep-konsep terpenting dalam teori kognitif selain perkembangan kognitif adalah adaptasi intelektual oleh Jean Piaget, discovery learning oleh Jeron Bruner, dan reception learning oleh Ausubel.
(Thobroni, Mustofa. Belajar dan Pembelajaran: Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional, hal 95, Ar-Ruzz Media)
Teori kognitif berpendapat bahwa belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Belajar tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati. Asumsi dasar teori ini adalah setiap orang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan dalam dirinya. Pengetahuan dan pengalaman ini tertata dalam struktur kognitif. Menurut teori ini, proses belajar akan berjalan baik bila materi pelajaran yang baru diadaptasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa.
Teori ini lebih menekankan kepada proses belajar daripada hasil belajar. Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa :
1.   Individu mempunyai kemampuan memproses informasi.
2.   Kemampuan memproses informasi tergantung kepada faktor kognitif yang perkembangannya berlangsung secara bertahap sejalan dengan tahapan usianya.
3.   Belajar adalah proses internal yang kompleks berupa pemrosesan informasi.
4.   Hasil belajar adalah berupa perubahan struktur kognitif.
5.   Cara belajar pada anak-anak dan orang dewasa berbeda sesuai tahap perkembangannya.
(Hartini, Eveline. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia)
Prinsip kognitif banyak dipakai di dunia pendidikan, khususnya terlibat dalam suatu perancangan suatu sistem instruksional, prinsip-prinsip tersebut antara lain sebagai berikut.
1.   Seseorang yang belajar akan lebih mampu mengingat dan memahami sesuatu apabila pelajaran tersebut disusun pola dan logika tertentu.
2.   Penyusunan materi pelajaran harus dari sederhana ke kompleks.
3.   Belajar dengan memahami akan jauh lebih baik daripada hanya dengan menghafal tanpa pengertian penyajian.
(Thobroni, Mustofa. Belajar dan Pembelajaran: Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional, hal 94, Ar-Ruzz Media)
Adapun kelebihan dan kekurangan teori belajar kognitif sebagai berikut:
1.   Kelebihan:                                                                    
a.    Menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri.
b.   Membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah.
2.   Kekurangan:
a.    Teori ini tidak menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan.
b.   Sulit dipraktikkan, khususnya di tingkat lanjut.
c.    Beberapa prinsip, seperti intelegensi, sulit dipahami dan pemahamannya masih belum tuntas.
(Thobroni, Mustofa. Belajar dan Pembelajaran: Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional, hal 105, Ar-Ruzz Media)
Aplikasi teori kognitif dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.   Guru harus memahami bahwa siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berpikirnya.
2.   Guru menyusun materi dengan menggunakan pola atau logika tertentu dari sederhana ke kompleks.
3.   Guru menciptakan pembelajaran yang bermakna.
4.   Guru memerhatikan perbedaan individual setiap siswa untuk mencapai keberhasilan siswa.
(Thobroni, Mustofa. Belajar dan Pembelajaran: Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional, hal 102 , Ar-Ruzz Media)
 Masih dalam sumber yang sama, Piaget menjabarkan implikasi teori kognitif pada pendidikan, yaitu sebagai berikut:
1.   Memusatkan perhatian pada cara berpikir atau proses mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya. Guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada hasil tersebut. Pengalaman-pengalaman belajar yang sesuai dikembangkan dengan memerhatikan tahap fungsi kognitif dan jika guru penuh perhatian terhadap pendekatan yang digunakan siswa untuk sampai pada kesimpulan tertentu, barulah dapat dikatakan guru berada dalam posisi memberikan pengalaman yang dimaksud.
2.   Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar. Dalam kelas, Piaget menekankan bahwa pengajaran pengetahuan jadi (ready made knowledge) anak didorong menentukan sendiri pengetahuan itu melalui interaksi spontan dengan lingkungan.
3.   Memaklumi akan adanya perbedaan individu dalam hal kemajuan perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh siswa tumbuh dan melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbuhan itu berlangsung dalam kecepatan yang berbeda. Oleh karena itu, guru harus berupaya untuk mengatur aktivitas di dalam kelas yang terdiri dari individu-individu ke dalam bentuk kelompok-kelompok kecil siswa daripada aktivitas dalam bentuk klasikal.
4.   Mengutamakan peran siswa untuk saling berinteraksi. Menurut Piaget, pertukaran gagasan-gagasan tidak dapat dihindari untuk perkembangan penalaran. Walaupun penalaran tidak dapat diajarkan secara langsung, perkembangannya dapat disimulasi.
(Thobroni, Mustofa. Belajar dan Pembelajaran: Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional, hal 103, Ar-Ruzz Media)

2.2Teori Belajar Kognitif Menurut Bruner
2.2.1 Prinsip-prinsip Belajar Bruner
Jerome S.Bruner, seorang ahli psikologi (1915) dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, telah mempelopori aliran psikologi kognitif yang memberi dorongan agar pendidikan memberikan perhatian pada pentingnya pengembangan berfikir. Bruner tidak mengembangkan teori belajar yang sistematis. Dasar pemikiran teorinya memandang bahwa manusia adalah sebagai pemroses, pemikir, dan pencipta informasi. Oleh karenanya, yang terpenting dalam belajar adalah cara-cara bagaimana seseorang memilih mempertahankan, dan mentransformasikan informasi yang diterimanya secara aktif. Sehubungan dengan itu Bruner sangat memberi perhatian pada masalah apa yang dilakukan manusia dengan informasi yang diterima itu untuk mencapai pemahaman dan membentuk kemampuan berpikir pada siswa. Menurut Bruner, pada dasarnya belajar merupakan proses kognitif yang terjadi dalam diri seseorang. Ada tiga proses yang terjadi dalam belajar, yaitu:
1.   Proses perolehan informasi baru, dapat terjadi melalui kegiatan membaca, mendengarkan penjelasan guru mengenai materi yang diajarkan atau mendengar atau melihat audiovisual, dan lain-lain.
2.   Proses mentransformasikan informasi yang diterima, hal ini merupakan suatu proses bagaimana kita memperlakukan pengetahuan yang sudah diterima agar sesuai dengan kebutuhan. Informasi yang diterima ini kemudian dianalisis, diproses atau diubah menjadi konsep yang lebih abstrak agar suatu saat dapat dimanfaatkan.
3.   Menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan, informasi yang telah diterima agar dapat bermanfaat untuk memecahkan masalah yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari.
(Teori Belajar dan Pembelajaran, Udin S. Winataputra, 3.13)
Dalam bukunya yang berjudul Process of Education, Bruner menerangkan bahwa dalam proses belajar ada tiga faktor yang mempengaruhi kelancaran proses tersebut. Tiga faktor ini sangat ditekankan dan harus menjadi perhatian guru di dalam menyelenggarakan pembelajaran, yaitu:
1.   Pentingnya memahami struktur mata pelajaran
Struktur mata pelajaran berisi ide-ide, konsep-konsep dasar, hubungan antar konsep, atau contoh-contoh dari bidang tersebut yang dianggap penting. Strutuk penting dari suatu ide ini dapat disajikan secara sederhana dalam bentuk diagram, serangkaian prinsip ataupun formula. Dengan struktur pengetahuan kita dapat menolong parasiswa untuk dapat melihat fakta-fakta yang tidak ada hubungan, dapat dihubungkan satu sama lain, demikian juga untuk informasi yang baru juga dapat dihubungkan. Karenanya, Bruner sangat menekankan pada pentingnya struktur mata pelajaran dalamn menyajikan materi pembelajaran. Menurut Bruner proses belajar akan lebih bermakna, berguna dan mudah diingat oleh siswa bila difokuskan pada pemahaman tentang struktur mata pelajaran yang akan dipelajari.
2.   Kesiapan untuk belajar
Dalam belajar, guru harus memperhatikan kesiapan siswa untuk mempelajari materi baru atau yang bersifat lanjutan. Kesiapan belajar dapat terdiri atas penguasaan ketrampilan-ketrampilan yang lebih sederhana yang telah dikuasai terlebih dahulu dan yang memungkinkan sesorang untuk memahami dan mencapai ketrampilan yang lebih tinggi. Untuk mengetahui apakah anak tersebvut telah memiliki kesiapan dalam mempelajari materi pelajaran tertentu maka perlu diberikan tes mengenai materi awal yang berhubungan dengan topik yang akan diajarkan. Bila siswa dapat mengerjakan tes dengan baik, berarti aia telah siap. Bila tidak mampu mengerjakan sekalipun ia telah bekerja keras ia dinyatakan belom siap. Untuk menumbuhkan kesiapan anak seorang guru harus memberikan pengalaman-pengalaman tertentu yangberhubungan dengan pengetahuan atau ketrampilan yang harus dikuasai.
3.   Intuisi
Menurut Bruner yang dimaksud dengan intuisi adalah tenik-teknik intelektual analitis untuk mengetahui apakah formulasi-formulasi itu merupakan kesimpulan yang sahih atau tidak.
4.   Motivasi
4.   Motivasi adalah kondisi khusus yang dapat mempengaruhi individu untuk belajar. Motivasi merupakan hal yang penting khusunya selama proses pembelajaran yang dapat mendorong kemauan belajar siswa. Karenanya, Bruner percaya bahwa hampir semua anak mempunyai masa-masa pertumbuhan akan “keinginan untuk blajar”. Bruner juga menekankan pentingnya motivasi intrinsik dibandingkan dengan motivasi internal. Contoh motivasi intrinsik adalah rasa ingin tahu anak. Bahwa dunia ini akan dapat dikenal dan dikuasai anak dengan menggunakan kesadaran “ingin tahu”. Motivasi lain yang dapat membawa kita pada dunia ini adalah dengan memiliki berbagai kompetensi. Anak-anak nantinya akan merasa tertarik untuk mempelajari hal-hal yang mereka anggap biasa dan telah dikuasai. Suatu hal yang tidak mungkin adalah memotivasi anak agar menguasai sesuatu yang mereka tidak biasa dan tidak kuasai.
(Teori Belajar dan Pembelajaran, Udin S. Winataputra, 3.14-3.15)
Bruner mengungkapkan perlunya seorang guru mengembangkan insight (wawasan) atau pengetahuan ynag tidak hanya sekedar siswa mampu mengorganisasi materi dan memahami hubungan-hubungan tetapi mengajak siswa memanipulasi lingkungan secara lebih aktif untuk menemukan sesuatu yang baru (pengetahuan, keahlian atau keterampilan, sikap dan atau nilai). Tujuan dari teori Bruner ini adalah individu dapat memperoleh dari pengetahuan melalui keaktifan dari belajarnya untuk pengembangan dirinya. (Tingginya volume kegiatan berpikir kognitif akan melahirkan dampak negatif bagi individu). Ia menikmati peran belajarnya. 
(Kasim, Anwar. 2010. Psikologi Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta)

2.2.2 Tahap Perkembangan Kognitif Menurut Bruner
Ada tiga tahap perkembangan kognitif yang dikemukakan oleh Bruner, yaitu enaktif, ikonik, dan simbolik. Selanjutnya, ketiga tahap perkembangan ini disebut sebagai model dalam menyajikan pelajaran. Ketiga model penyajian ini adalah.
1.   Penyajian  Enaktif
Penyajian enaktif adalah penyajian yang dilakukan melalui tindakan. Penyajian seperti ini sangat diperlukan oleh anak-anak yang mulai dapat memahami beberapa aspek realita atau kejadian tanpe menggunakan imajinasinya atau kata-kata. Ia akan dapat memahami sesuatu dari berbuat atau melakukan sesuatu.
2.   Penyajian ikonik
Penyajian ikonik dilakukan melalui serangkaian gambar-gambar atau sesuatu yang menggambarkan suatu konsep tetapi tidak mendefinisikannya. Penyajian ini bergantung pada visual organisasi sensorik anak.
3.   Penyajian simbolik
Bahasa adalah dasar penyajian simbolik. Penyajian simbolik ini dibuktikan oleh kemampuan seseorang untuk memikirkan proposisi dibandingkan objek. Pada tahap ini, mungkin seorang anak sudah dapat menerangkan sesuatu hal atau mungkin proses terjadinya sesuatu.
(Teori Belajar dan Pembelajaran, Udin S. Winataputra, 3.16)

2.2.3 Belajar Penemuan dari Bruner, Manfaat, dan Contoh Penerapannya dalam Pembelajaran
Belajar penemuan (discovery learning) merupakan salah satu model pembelajaran atau belajar kognitif yang dikembangkan oleh Bruner (1966). Menurut Bruner belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan. Agar belajar menjadi bermakna dan memiliki struktur informasi yang kuat, siswa harus aktif mengidentifikasi prinsip-prinsip kunci yang ditemukannya sendiri, bukan hanya sekedar menerima penjelasan dari guru saja. ( Gagne/Berliner, 319-320).
Bruner yakin bahwa belajar penemuan adalah proses belajar dimana guru harus menciptakan situasi belajar yang problematis, menstimulus siswa dengan pertanyaan-pertanyaan, mendorong siswa mencari jawaban sendiri, dan melakukan eksperimen. Bentuk lain dari belajar penemuan adalah guru menyajikan contoh-contoh dan siswa bekerja dengan contoh tersebut sampai dapat menemukan sendiri hubungan antar konsep. Menurut Bruner, belajar penemuan pada akhirnya dapat meningkatkan penalaran dan kemampuan untuk berpikir secara bebas dan melatih keterampilan kognitif siswa dengan cara menemukan dan memecahkan masalah yang ditemui dengna pengetahuan yang telah dimiliki dan menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna bagi dirinya.
(Teori Belajar dan Pembelajaran, Udin S. Winataputra,3.18)
Saat ini model belajar penemuan menduduki peringkat atas dalam dunia pendidikan modern. Salah satu yang banyak diterapkan dalam pembelajaran di Indonesia adalah konsep belajar siswa aktif atau cara belajar siswa aktif (CBSA). Dalam menerapkan model belajar penemuan ini, seorang guru dianjurkan untuk tidak memeberikan materi pelajaran secara utuh. Siswa cukup diberikan konsep utama, untuk selanjutnya siswa dibimbing agar dapat menemukan sendiri sampai akhirnya dapat mengorganisasikan konsep tersebut bsecara utuh. Untuk itu guru perlu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mendapatkan konsep-konsep yang belum disampaikan oleh guru dengan pendekatan belajar problem solving.
(Teori Belajar dan Pembelajaran, Udin S. Winataputra, 3.18)
Adapun manfaat belajar penemuan sebagai berikut:
1.   Belajar penemuan dapat digunakan untuk menguji apakah belajar sudah bermakna.
2.   Pengetahuan yang diperoleh siswa akan tersimpan lama dan mudah diingat.
3.   Belajar penemuan sangat diperlukan dalam pemecahan masalah sebab yang diinginkan adalah agar siswa dapat mendemonstrasikan pengetahuan yang diterimanya.
4.   Transfer dapat ditingkatkan setelah generalisasi ditemukan sendiri oleh siswa.
5.   Penggunaan belajar penemuan mungkin mempunyai pengaruh dalam menciptakan motivasi belajar.
6.   Belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir secara bebas.
(Teori Belajar dan Pembelajaran, Udin S. Winataputra, 3.18-3.19)
Tahap-tahap penerapan belajar penemuan sebagai berikut:
1.   Stimulus (pemberian perangsang atau stimuli); kegiatan belajar dimulai dengan memeberikan pertanyaan yang merangsang berpikir siswa, menganjurkan dan mendorongnya untuk membaca buku dan aktivitas belajar lain yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
2.   Problem statement (mengidentifikasi masalah); memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebnyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian memilih dan merumuskannya dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara dari masalah tersebut).
3.   Data collection (pengumpulan data); memberikan kesempatan kepada siswa mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-banyaknya untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis tersebut.
4.   Data processing (pengolahan data); mengolah data yang telah diperoleh siswa melalui kegiatan wawancara, observasi, dan lain-lain. Data tersebut kemudian ditafsirkan.
5.   Verifikasi; mengadakan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis yang ditetapkan dan dihubungkan dengan hasil dan pengolahan data.
6.   Generalisasi; mengadakan penarikan kesimpulan untuk dijadikan prinsip umum yang berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama dengan memperhatikan hasil verifikasi. (Muhibbin syah 1995, hal 245)
(Teori Belajar dan Pembelajaran, Udin S. Winataputra, 3.19)
Penerapan Teori Belajar Bruner dalam Pembelajaran sebagai berikut:
1.   Sajikan contoh dan noncontoh konsep-konsep yang anda ajarkan, misalnya pembelajaran mamalia.
Contoh:
a.       Contohnya: manusia, ikan paus, kucing, atau lumba-lumba.
b.      Noncontohnya: ayam, ikan , katak atau buaya.
2.   Bantu siswa untuk melihat adanya hubungan antara konsep-konsep.
Contoh:
Beri pertanyaan kepada siswa seperti berikut ini “apakah ada sebutan lain dari kata “rumah”? (tempat tingal), “dimanfaatkan untuk apa rumah?” (untuk istirahat, berkumpulnya keluarga dan lain-lain), adakah sebutan lainnya dari kata rumah tersebut?
3.   Beri satu pertanyaan dan biarkan siswa untuk berusaha mencari jawabannya.
Contoh:
a.       Bagaimana terjadinya embun?
b.       Apakah ada hubungan antara kabupaten dan kotamadya?
4.   Ajak dan beri semangat siswa untuk memberikan pendapat berdasarkan    Intuisinya.
Contoh:
a.       Beri Siswa peta Yunani kuno dan tanyakan dimana letak kota-kota utama di Yunani.
b.      Jangan berkomentar dulu atas jawaban siswa, gunakan pertanyaan yang memandu siswa untuk mengarahkan mereka kepada jawaban yang sebenarnya dan lain-lain. (Anita, W. 1995)
(Teori Belajar dan Pembelajaran, Udin S. Winataputra,3.20)

2.3 Teori Belajar Kognitif Menurut Ausubel
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya. Pembelajaran adalah sesuatu yang dilakukan oleh siswa, bukan dibuat oleh siswa. Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antara anak dengan lingkungannnya baik antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar, maupun anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik dalam melaksanakan kegiatan belajar, demi mencapai hasil belajar yang memuaskan. Pembelajaran akan mempunyai arti apabila antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang lama memiliki keterkaitan. Inilah teori David P. Ausubel, pembelajaran bermakna, seorang ahli psikologi pendidikan. Pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang melalui pembelajaran. Pembelajaran bermakna terjadi apabila siswa boleh menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Artinya, bahan subjek itu mesti sesuai dengan keterampilan siswa dan mesti relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Oleh karena itu, subjek mesti dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimiliki para siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benar-benar terserap olehnya.
Misalnya, Anda mendapatkan seorang anak SD yang mampu berteriak-teriak, “Ini Budi. Ini Ibu Budi”, tetapi ia tidak tahu mana yang suku kata bu dan mana yang suku kata di. Mungkin juga ada siswa sekolah menengah yang hafal rumus nilai akhir bunga majemuk, namun tidak mampu menyelesaikan soal menentukan nilai akhir bunga majemuk. Cara belajar dengan membeo seperti yang telah dilakukan siswa SD dan siswa sekolah menengah tersebut disebut dengan belajar hafalan (rote learning) oleh Ausubel sebagaimana pernyataannya yang dikutip Bell (1978:132) berikut: “…, if the learner’s intention is to memorise it verbatim as a series of arbitrarily related word, both the learning process and the learning aoucome must necessarily be rote and meaningless (jika seseorang, contohnya si siswa tadi, berkeinginan untuk mempelajari sesuatu tanpa mengaitkan hal yang satu dengan hal yang lain yang sudah diketahuinya, maka baik proses maupun hasil pembelajarannya dapat dinyatakan sebagai hafalan dan tidak akan bermakna sama sekali baginya).” Contoh lain yang dapat dikemukakan tentang belajar hafalan ini adalah beberapa siswa yang dapat mengucapkan rumus suku ke-n suatu barisan aritmatika dengan lancar, namun ia sama sekali tidak mengerti arti lambang-lambang tersebut dan tidak dapat menggunakannya.
(Thobroni, Mustofa. Belajar dan Pembelajaran: Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional, hal 101, Ar-Ruzz Media)
Kelemahan lain belajar hafalan adalah seseorang kemungkinan besar tidak dapat menjawab soal baru lainnya. Karena materi matematika bukanlah pengetahuan yang terpisah-pisah, namun merupakan suatu pengetahuan yang utuh dan saling berkait antara yang satu dan yang lainnya, setiap siswa harus menguasai beberapa konsep dan keterampilan dasar terlebih dahulu. Setelah itu, siswa harus mampu mengaitkan antara pengetahuan yang baru dan pengetahuan yang sudah dipunyainya agar terjadi suatu pembelajaran bermakna (meaningfull learning). Karenanya, Ausubel mengatakan sebagai hal berikut sebagaimana dikutip Orton (1987: 34), “If I had to reduce all of educational psychology to just one principle, I would say this: The most important single factor influencing learning is what the learner already knows. Ascertain this and teach him accordingly.” Jelaslah bahwa pengetahuan yang sudah dimiliki siswa akan sangat menentukan bermakna tidaknya suatu proses pembelajaran. Belajar hafalan (rote learning) akan terjadi jika siswa tidak mampu mengaitkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang lama. Tugas gurulah untuk memberi kemudahan bagi para siswanya sehingga mereka dapat dengan mudah mengaitkan pengalaman atau pengetahuan barunya dengan pengetahuan yang relevan yang sudah ada didalam pikirannya atau dalam struktur kognitifnya. Belajar seperti itulah yang diharapkan dapat terjadi di kelas-kelas di Indonesia, pembelajaran bermakna seperti yang telah digagas Ausubel.
(Thobroni, Mustofa. Belajar dan Pembelajaran: Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional, hal 101, Ar-Ruzz Media)
Proses belajar tidak sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi pembelajaran bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan. Jadi belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang atau guru menjelaskan. Pembelajaran bermakna memiliki kondisi-kondisi sebagai berikut:
1.    Menjelaskan hubungan atau relevansi bahan-bahan baru dengan bahan-bahan lama.
2.    Menunjukkan persamaan dan perbedaan antara bahan baru dengan bahan lama.
3.    Lebih dahulu memberikan ide yang paling umum kemudian hal-hal yang lebih terperinci
4.    Mengusahakan agar ide yang telah ada dikuasai sepenuhnya sebelum ide yang baru disajikan.
Sementara dalam sekolah-sekolah banyak ditemukan pengajaran yang tidak sesuai dengan pembelajaran, seperti adanya kekakuan di dalam kelas dan pasif, waktu sering didominasi oleh guru dan tidak adanya kesesuaian struktur kognitif siswa dengan materi baru dan lain sebagainya. Hal ini menyebabkan siswa akan merasa bosan dan tidak termotivasi untuk belajar. Bila dalam struktur kognitif siswa tidak terdapat konsep-konsep relevan, maka informasi yang baru tersebut akan bersifat sementara. Bila tidak dilakukan usaha untuk mengasimilasikan pengetahuan baru pada konsep-konsep relevan yang sudah ada dalam struktur kognitif, maka akan terjadi proses pembelajaran yang bersifat hafalan. Kerap kali siswa diminta untuk mengemukakan prinsip-prinsip yang sebenarnya tidak dimengerti oleh siswa. Oleh karena itu, dengan menerapkan teori belajar Ausubel siswa dapat memahami materi pelajaran yang lebih luas dengan batas ingatan jangka panjang.
Dalam bukunya yang berjudul “Educational Psychology: A cognitive View” (1968) Ausubel mengatakan “faktor yang paling penting mempengaruhi siswa belajar adalah apa yang telah diketahui oleh siswa. Yakinilah ini dan ajarlah dia demikian”. Pernyataan Ausubel tersebutlah yang menjadi inti teori belajarnya. Jadi, agar terjadi pembelajaran bermakna, konsep baru atau informasi baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif siswa.
Dalam proses pembelajaran bermakna ini pun ada tiga faktor yang memiliki pengaruh, yaitu struktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Sifat-sifat struktur kognitif menentukan validitas dan kejelasan arti-arti yang timbul waktu informasi baru masuk ke dalam struktur kognitif itu, demikian pula sifat proses interaksi yang terjadi. Jika struktur kognitif itu stabil dan diatur dengan baik, maka arti-arti yang jelas akan timbul dan cenderung bertahan. Tetapi sebaliknya jika struktur kognitif itu tidak stabil, meragukan, dan tidak teratur, maka struktur kognitif itu cenderung menghambat belajar dan retensi.
Menurut Ausubel tipe belajar ada empat, yaitu:                                
1.   Belajar dengan penemuan yang bermakna yaitu mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan materi pelajaran yang dipelajari itu. Atau sebaliknya, siswa terlebih dahulu menemukan pengetahuannya dari apa yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru tersebut ia kaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada.
2.   Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh siswa tanpa mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya, kemudian dia hafalkan.
3.   Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir, kemudian pengetahuan yang baru ia peroleh itu dikaitkan dengan pengetahuan lain yang telah dimiliki.
Belajar menerima (ekspositori) yang tidak bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir, kemudian pengetahuan yang baru ia peroleh itu dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan lain yang telah ia miliki.

(Udin S. Winataputra. Teori Belajar dan Pembelajaran, hal 3.21-3.22, Universitas Terbuka)
Ausubel berpendapat bahwa seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena baru ke dalam skema yang telah ia punya. Dalam proses itu seseorang dapat memperkembangkan skema yang ada atau dapat mengubahnya. Dalam proses belajar ini siswa mengonstruksi apa yang ia pelajari sendiri. Teori pembelajaran bermakna Ausubel ini sangat dekat dengan konstruktivisme. Keduanya menekankan pentingnya pelajar mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru ke dalam sistem pengertian yang telah dimilikinya. Keduanya menekankan pentingnya asimilasi pengalaman baru ke dalam konsep atau pengertian yang sudah dimiliki siswa. Keduanya mengandaikan bahwa dalam proses belajar itu siswa aktif. Ausubel berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses pembelajaran yang bermakna. Sama seperti Bruner dan Gagne, Ausubel beranggapan bahwa aktivitas belajar siswa, terutama mereka yang berada di tingkat pendidikan dasar akan bermanfaat kalau mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung. Hal ini mengingat kemampuan berpikir siswa pada tingkat dasar masih pada tahap pembelajaran yang konkret. Namun untuk siswa pada tingkat pendidikan lebih tinggi, maka kegiatan langsung akan menyita banyak waktu. Untuk mereka, menurut Ausubel, lebih efektif kalau guru menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram, dan ilustrasi.
Selama ini metode ceramah dan metode-metode ekspositoris yang lain banyak digugat karena dianggap kurang mendorong proses berpikir dan proses belajar aktif pada siswa, tidak berarti bahwa metode-metode tersebut ditinggalkan begitu saja. Namun Ausubel berpendapat bahwa metode ceramah (lecture method) merupakan metode pembelajaran yang sangat efektif, apabila dipakai secara tepat. Menurut Ausubel, metode-metode ekspositoris (termasuk metode ceramah) akan sangat efektif dalam menghasilkan kegiatan belajar yang bermakna (meaningful learning) apabila dipenuhi dua syarat sebagai berikut:
1.   Siswa memiliki meaningful leaening set, yakni sikap mental yang mendukung terjadinya kegiatan belajar yang bermakna. Contoh: siswa betul-betul mempunyai keinginan yang kuat untuk memahami hal-hal yang akan dipelajari dan berusaha untuk mengaitkan hal-hal baru yang dipelajari dengan hal-hal lama yang telah ia ketahui, yang kiranya relevan.
2.   Materi yang akan dipelajari atau tugas yang akan dikerjakan siswa adalah materi atau tugas  yang bermakna bagi siswa. Artinya, materi atau tugas tersebut terkait dengan struktur kognitif yang pada saat itu telah dimiliki siswa, sehingga dengan demikian siswa bisa mengasimilisasikan pengetahuan-pengetahuan baru yang dipelajari itu ke dalam struktur kognitif yang ia miliki. Dan dengan demikian, struktur kognitif siswa mengalami perkembangan.
Untuk menerapkan teori Ausubel dalam mengajar, ada beberapa prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang perlu kita perhatikan, yaitu :
1.   Pengatur awal
Pengatur awal mengarahkan para siswa ke materi yang akan mereka pelajari dan menolong mereka untuk mengingat kembali informasi yang berhubungan yang dapat digunakan untuk membantu menanamkan pengetahuan baru. Suatu pengatur awal dapat dianggap sebagai pertolongan mental dan disajikan sebelum materi baru.
2.   Diferensiasi progresif
Selama belajar bermakna berlangsung, perlu terjadi pengembangan dan elaborasi konsep. Pengembangan konsep berlangsung paling baik, bila unsur-unsur yang paling umum diperkenalkan terlebih dulu, baru kemudian hal-hal yang lebih khusus dan detail dari konsep tersebut.
3.   Belajar super ordinat
Belajar superordinat terjadi, bila konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya dikenal sebagai unsur-unsur dari suatu konsep yang lebih luas dan lebih inklusif.
4.   Penyesuaian integratif
Dalam mengajar, bukan hanya urutan menurut diferensiasi progresif yang diperhatikan, melainkan juga harus diperlihatkan bagaimana konsep-konsep baru dihubungkan pada konsep-konsep superordinat. Kita harus memperlihatkan secara eksplisit bagaimana arti-arti baru dihubungkan dan dipertentangkan dengan arti-arti sebelumnya yang lebih sempit dan bagaimana konsep-konsep yang tingkatnya lebih tinggi sekarang mengambil arti baru.
(Udin S. Winataputra. Teori Belajar dan Pembelajaran, hal 3.23-3.24, Universitas Terbuka)
Menurut Ausubel ada tiga kebaikan dari pembelajaran bermakna, yaitu:
1.   Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat.
2.   Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip.
3.   Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa.
Langkah-langkah kegiatan yang mengarah pada timbulnya pembelajaran bermakna adalah sebagai berikut:
1.    Orientasi mengajar tidak hanya pada segi pencapaian prestasi akademik, melainkan juga diarahkan untuk mengembangkan sikap dan minat belajar serta potensi dasar siswa.
2.    Topik-topik yang dipilih dan dipelajari didasarkan pada pengalaman anak yang relevan. Pelajaran tidak dipersepsi anak sebagai tugas atau sesuatu yang dipaksakan oleh guru, melainkan sebagai bagian dari atau sebagai alat yang dibutuhkan dalam kehidupan anak.
3.    Metode mengajar yang digunakan harus membuat anak terlibat dalam suatu aktivitas langsung dan bersifat bermain yang menyenangkan.
4.    Dalam proses belajar perlu diprioritaskan kesempatan anak untuk bermain dan bekerjasama dengan orang lain.
5.    Bahan pelajaran yang digunakan hendaknya bahan yang konkret.
Dalam menilai hasil belajar siswa, para guru tidak hanya menekankan aspek kognitif dengan menggunakan tes tulis, tetapi harus mencakup semua domain perilaku anak yang relevan dengan melibatkan sejumlah alat penilaian.
Cara pembelajaran bermakna dengan menggunakan peta konsep:
1.   Pilih suatu bacaan dari buku pelajaran.
2.   Tentukan konsep-konsep yang relevan.
3.   Urutkan konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif atau contoh-contoh.
4.   Susun konsep-konsep tersebut di atas kertas mulai dari konsep yang paling inklusif di puncak konsep ke konsep yang tidak inklusif di bawah.
5.   Hubungkan konsep-konsep ini dengan kata-kata penghubung sehingga menjadi sebuah peta konsep.
(Udin S. Winataputra. Teori Belajar dan Pembelajaran, hal 3.24-3.25, Universitas Terbuka)

2.4 Teori Belajar Kognitif Menurut Piaget
Jean Piaget adalah seorang ahli biologi dan psikolog yang mempunyai kontribusi besar dalam pemahaman terhadap perkembangan intelektual anak. Dalam rangka memahami proses dan tingkat perkembangan intelektual anak ini Piaget telah melakukan observasi bertahun-tahun sejak tahun 1920-an terhadap perkembangan intelektual yang terjadi pada anak-anak. Ia mulai melakukan observasi dan interview pada tiga orang anaknya, kemudian anak-anak lain dan para remaja melalui berbagai pemberian tugas intelektual, kemudian mencatat jawaban-jawaban yang diperolehnya. Melalui penelitian yang ekstensif akhirnya secara detail Piaget dapat menggambarkan teori proses perkembangan intelektual yang terjadi pada anak mulai dari bayi sampai remaja.
(Udin S. Winataputra. Teori Belajar dan Pembelajaran, hal 3.36, Universitas Terbuka)

1.4.1  Prinsip Perkembangan Intelektual
Prinsip-prinsip teori perkembangan intelektual adalah sebagai berikut :
1.   Teori perkembangan intelektual bertujuan untuk menjelaskan mekanisme proses perkembangan individu mulai dari masa bayi, anak-anak sampai menjadi individu yang dewasa yang mampu bernalar dan berpikir menggunakan hipotesis.
2.   Perkembangan genetika dalam organisme tertentu tidak seluruhnya dipengaruhi oleh sifat-sifat keturunan dan tidak terjadi karena perubahan lingkungan, tetapi sangat dipengaruhi oleh proses interaksi antara organisme dengan lingkungan.
3.   Kecerdasan adalah proses adaptasi dengan lingkungan dan membentuk struktur kognitif yang diperlukan dalam mengadakan penyesuaian dengan lingkungan.
4.   Hasil  perkembangan intelektual adalah kemampuan berpikir operasi formal.
5.   Fungsi perkembangan intelektual adalah menghasilkan stuktur kognitif yang kuat yang memungkinkan individu bertindak atas lingkungannya dengan luwes dan dengan berbagai macam cara.
6.   Faktor yang mempengaruhi perkembangan intelektual adalah lingkungan fisik, kematangan, pengaruh sosial dan proses pengaturan diri (ekuilibrium).
(Udin S. Winataputra. Teori Belajar dan Pembelajaran, hal 3.36-3.37, Universitas Terbuka)

1.4.2  Proses Perkembangan Intelektual
Proses belajar berhubungan dengan proses perkembangan intelektual. Menurut Jean Piaget, proses belajar sebenarnya terdiri tiga tahapan, yakni asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi (penyeimbangan). (Udin S. Winataputra. Teori Belajar dan Pembelajaran, hal 3.37, Universitas Terbuka). Asimilasi adalah proses pengintegrasian informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada. Akomodasi adalah proses penyesuaian stuktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Sedangkan equilibrasi adalah penyesuaian kesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
(Thobroni, Mustofa. Belajar dan Pembelajaran: Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional, hal 96 , Ar-Ruzz Media)

Sebagai contoh, seorang siswa yang sudah mengetahui prinsip-prinsip penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan prinsip perkalian, maka terjadilah proses pengintegrasian antara prinsip penjumlahan (yang sudah ada di benak siswa) dengan prinsip perkalian (sebagai informasi yang baru) inilah yang dimaksud dengan proses asimilasi. Jika siswa diberi sebuah soal perkalian, maka situasi ini disebut akomodasi, dalam hal ini penerapan prinsip perkalian dalam situasi yang baru dan spesifik. Agar siswa dapat terus berkembang dan menambah ilmunya, tapi sekaligus menjaga stabilitas mental dalam dirinya, diperlukan proses penyeimbang. Proses inilah yang disebut equilibrasi, penyeimbang antara dunia luar dan dunia dalam. Tanpa proses ini perkembangan kognitif seseorang akan tersendat-sendat dan berjalan tak teratur. Seseorang dengan kemampuan equilibrasi yang baik akan mampu menata berbagai informasi yang diterimanya dalam urutan yang baik, jernih, dan logis. Sebaliknya jika kemampuan equilibrasi seseorang rendah, ia cenderung menyimpan semua informasi yang ada pada dirinya secara kurang teratur, sehingga ia tampil sebagai orang yang alur berpikirnya ruwet, tidak logis, dan berbelit-belit.
(Hartini, Eveline. Teori Belajar dan Pembelajaran, Ghalia Indonesia)

1.4.3  Hakikat Pengetahuan dan Proses Penyusunan Pengetahuan
Hakikat pengetahuan adalah interaksi yang terus menerus antara individu dan lingkunganya. Pengetahuan dibangun dalam pikiran anak sambil anak mengatur pengalaman-pengalaman yang terdiri atas stuktur mental atau skema yang sudah ada. Dengan demikian pengetahuan merupakan proses bukan barang jadi.
(Udin S. Winataputra. Teori Belajar dan Pembelajaran, hal 3.38, Universitas Terbuka)
Pada hakikatnya proses penyusunan pengetahuan adalah asimilasi dan akomodasi yang diatur oleh equilibrasi. Menurut Jean Piaget, penyusunan pengetahuan ini diatur menurut jenis-jenis pengalaman yang ada pada diri siswa. Ada dua macam pengalaman, yaitu pengalaman fisik dan pengalaman logis-matematis.
Pengalaman fisik adalah pengalaman langsung dengan lingkungan tempat individu mulai mengenal ciri-ciri fisik dari objek yang dijumpainya. Misalnya bayi yang mulai merasakan bentuk mainannya atau suara dari bunyi boneka. Dalam pengalaman fisik ini, bentuk atau suara dari suatu objek mulai  diasilimilasikan ke dalam stuktur mental anak dan pada waktu yang sama terjadi akomodasi dimana struktur mental mulai menyesuaikan diri pada intensitas kelelmbutan benda atau warna dari suatu objek.
Pengalaman logis-matematis terjadi saat sifat-sifat fisik dari objek diabstraksikan dan dihubung-hubungkan dalam kerangka kerja anak melalui pengalaman fisik. Contoh hubungan dalam kerangka kerja adalah perbedaan balon merah dengan balon kuning. Perbedaan ini hanya dapat terjadi dalam pikiran orang yang menempatkan kedua objek tersebut ke dalam sesuatu hubungan. Bila orang tidak dapat menciptakan hubungan, perbrdaan itu tidak akan pernah ada.
Adanya jenis pengalaman fisik dan logis-matematis  ini menunjukan bahwa pengembangan atau penyusunan pengetahuan yang baru dalam diriseseorang terjadi melalui cara-cara yang berlainan. Pada masa usia awal, proses abstraksi empiris dan refleksif dalam diri anak tidak terdefinisi namun proses abstraksi empirismendominasi cara berpikir anak menjadi lebih logis dan ia muali mampu mengambil keputusan secara logis yang sebenarnya. Hal itu ditandai oleh menonjolnya proses abstraksi ferlektif.
(Udin S. Winataputra. Teori Belajar dan Pembelajaran, hal 3.39, Universitas Terbuka)

1.4.4  Tahap-Tahap Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget perkembangan kognitif anak dibagi menjadi empat tahap, yaitu  Tahap sensori motorik, praoperasional, operasional konkret, dan opersional formal.
1.   Tahap sensori motorik (0-2 tahun)
Pada tahap ini anak mengatur sensorinya (inderanya) dan tindakan-tindakannya. Pada awal periode ini anak tidak mempunyai konsepsi tentang benda-benda secara permanen. Artinya anak belum dapat mengenal dan menemukan objek, benda apapun yang tidak dilihat, tidak disentuh atau tidak didengar. Benda-benda tersebut dianggap tidak  ada meskipun sesungguhnya ada di tempat lain.
(Udin S. Winataputra. Teori Belajar dan Pembelajaran, hal 3.40, Universitas Terbuka)
Subtahap sensori motorik:
a.    Refleks sederhana: alat dasar koordinasi sensasi dan aksi ialah melalui perilaku reflektif, seperti mencari dan menghisap, yang dimiliki bayi sejak kelahiran.
b.   Kebiasaan pertama dan reaksi sirkuler primer: bayi belajar mengkoordinasikan sensasi, menghisap menjadi sebuah kebiasaan, yang bayi lakukan walau tidak sedang menyusu. Bayi juga melakukan usaha untuk menyenamgkan dirinya walaupun awalnya terjadi secara kebetulan.
c.    Reaksi sirkuler sekunder: bayi semakin berfokus pada benda-benda di dunia. Yang bergerak di dalam keasyikan dengna dirinya sendiri dalam interaksi sensorimotorik.
d.   Koordinasi reaksi sirkuler sekunder: bayi dapat melihat pada suatu benda dan menggenggamnya secara serentak. Bayi juga dapat meraih tongkat untuk mengambil benda-benda yang jauh darinya.
e.    Reaksi sirkuler tersier, kesenangan dan keingintahuan: bayi sudah dapat membuat balok terjatuh, berputar, dan menabrak benda lain.
f.     Internalisasi skema: bayi dapat mentransformasikan peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dengan cara yang sederhana. Misalnya seorang anak yang membuka pintu pelan-pelan agar kertas-kertas di lantai itu tidak terbang, maka anak itu telah memiliki gambaran tentang kertas dan bagaimana jika pintu dibuka dengan cepat.
(Santrock, John. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup Jilid 1 Edisi 5 , bab 6 hal168-169,  Erlangga)
2.   Tahap Praoperasional (2-7 tahun)
Anak sudah dapat memahami objek-objek secara sempurna, sudah dapat mencari benda yang dibutuhkannya walaupun ia tidak melihatnya. Sudah memiliki kemampuan berbahasa (dengan kata-kata pendek).
(Udin S. Winataputra. Teori Belajar dan Pembelajaran, hal 3.40, Universitas Terbuka)
Subtahap praoperasional:
a.    Fungsi simbolik (2-4 tahun): tidak peduli realitas, gambar-gambar yang diciptakan penuh khayalan, dan daya cipta. Contoh : matahari berwarna biru, langit kuning, dan mobil mengambang di atas awan.
b.   Pemikiran intuitif (4-7 tahun): misalnya ia tidak dapat mengelompokan teman-temannya dalam dua ciri, yaitu berteman atau tidak, laki-laki atau perempuan. Contoh lain seorang anak diberi dua buah gelas yang sama ukurannya dan sejumlah cairan dituangkan kedalam dua buah gelas tersebut, mereka akan mengatakan bahwa jumlah cairannya sama, dan ketika ia diberi gelas ketiga yang lebih tinggi dan  ramping kemudian diisi dengan jumlah cairan yang sama dengan 2 gelas sebelumnya, mereka akan mengatakan jumlah cairannya tidak sama.
(Santrock, John. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup Jilid 1 Edisi 5 , bab 8 hal 228-231,  Erlangga)

3.   Tahap Operasional Konkret (7-11 tahun)
Anak sudah mulai melakukan operasi dan berpikir rasional, mampu mengambil keputusan secara logis yang bersifat konkret, mampu mepertimbangkan dua aspek misalnya bentuk dan ukuran. Adanya keterampilan klasifikasi-dapat menggolongkan benda-benda ke dalam perangkat-perangkat dan penalarannya logis dan bersifat tidak abstrak (tidak membayangkan persamaan aljabar).
(Santrock, John. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup Jilid 1 Edisi 5 , bab 10 hal 309,  Erlangga)
4.   Tahap Operasional Formal (11-15 tahun)
Remaja tidak lagi terbatas pada pengalaman konkret aktual sebagai dasar pemikiran. Mereka dapat membangkitkan situasi-situasi khayalan, kemungkinan-kemungkinan hipotetis, atau dalil-dalil dan penalaran yang benar-benar abstrak. Tiga sifat pemikiran remaja pada tahap operasional formal:
a.    Remaja berfikir lebih abstrak daripada anak-anak. Para pemikir operasional formal, misalnya dapat memecahkan persamaan-persamaan aljabar yang abstrak.
b.   Remaja sering berfikir tentang yang mungkin. Mereka berfikir tentang ciri-ciri ideal diri mereka sendiri, orang lain, dan dunia.
c.    Remaja mulai berfikir seperti ilmuwan, yang menyusun rencana-rancana untuk memecahkan masalah dan menguji pemecahan masalah secara sistematis. Tipe pemecahan masalah ini diberi nama deduksi hipotetis.
(Santrock, John. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup Jilid 2 Edisi 5 , bab 12 hal 10-11,  Erlangga)

2.5 Teori Belajar Kognitif Menurut Gagne
Robert Gagne adalah seorang ahli psikologi pendidikan yang telah memperkenalkan berbagai pandangan tentang belajar, salah satunya adalah teori pembelajaran yang didasarkan pada model pemrosesan informasi. Dalam memahami belajar, Gagne tidak memperhatikan apakah proses belajar terjadi melalui proses penemuan, ataupun melalui proses penerimaan sebagaimana yang telah diperkenalkan oleh Bruner dan Ausubel. Menurut Gagne, yang terpenting dalam belajar adalah kualitas penetapan (daya simpan) dan kegunaan belajar.
Ada beberapa unsur yang melandasi pandangan Gagne tentang belajar. Menurutnya, belajar bukan merupakan proses tunggal, melainkan proses yang luas yang dibentuk oleh pertumbuhan dan perkembangan tingkah laku. Jadi, tingkah laku merupakan hasil dari efek komulatif belajar. Artinya, banyak keterampilan yang telah dipelajari memberikan sumbangan bagi ketrampilan yang lebih rumit. Belajar merupakan suatu proses yang kompleks, yang menghasilkan berbagai macam tingkah laku yang berlainan yang disebut kapasitas. Kapasitas itu diperoleh dari stimulus yang berasal dari lingkungan dan proses kognitif yang dilakukan oleh siswa.
(Teori Belajar dan Pembelajaran, Udin S. Winataputra, 3.30)
Berdasarkan pandangannya itu, Gagne mendefinisikan pengertian belajar secara formal bahwa belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulus dari lingkungan menjadi beberapa tahap pengolahan informasi yang diperlukan untuk memperoleh kapasitas yang baru.

2.5.1 Ragam Belajar
Kapasitas orang untuk belajar memungkinkan diperolehnya berbagai pola tingkah laku yang hampir mirip. Berdasarkan pandangannya tentang belajar ini Gagne menemukan bahwa ada lima ragam belajar yang terjadi pada manusia, yaitu
1.   Informasi verbal
Informasi verbal adalah kapabilitas yang dinyatakan dengan kategori memperoleh label, nama-nama, fakta dan bidang pengetahuan yang sudah tersusun. Kegiatan dalam mengetahui kapabilitas informasi verbal dilakukan dengan mengatakan, memberi nama lain yang hampir sama, membuat ikhtisar dari informasi yang telah dipelajari.
a.    Keterampilan intelek
Keterampilan intelek adalah kapabilitas yang berupa keterampilan yang membuat seseorang mampu dan berguna di masyarakat. Keterampilan intelek berhubungan dengan pendidikan formal dari mulai tingkat dasar dan seterusnya. Keterampilan intelek ini terdiri dari empat keterampilan yang berhubungan dari yang sifatnya sederhana sampai yang rumit, yaitu belajar diskriminasi, belajar konsep konkrit dan konsep menurut definisi, belajar kaidah, dan belajar kaidah yang tarafnya lebih tinggi.
b.   Keterampilan motorik (gerak)
Keterampilan ini adalah kapabilitas yang mendasari perbuatan jasmani termasuk keterampilan yang bersifat sederhana. Ciri umum ketrampilan ini adalah membutuhkan prasyarat untuk mengembangkan kemulusan atau kehalusan bertindak dan pengaturan waktu. Keterampilan ini bila sering dipraktekan akan bertambah sempurna. Untuk itu dalam mengajarkannya perlu banyak pengulangan atau latihan-latihan disertai umpan balik lingkungan.
c.    Sikap
Sikap adalah kapabilitas yang mempengaruhi pilihan tentang tindakan mana yang perlu diambil. Ciri kapabilitas ini adalah tidak menentukan tindakan khusus yang akan diambil. Belajar memperoleh sikap didasarkan pada informasi tentang tindakan apa yang perlu dilakukan dan apa akibatnya.
d.   Siasat kognitif
Siasat kognitif adalah kapabilitas yang mengatur bagaimana siswa megelola belajarnya, seperti mengingat atau berpikir dalam rangka mengendalikan sesuatu untuk mengatur suatu tindakan. Hal ini mempengaruhi perhatian siswa dan informasi yang tersimpan dalam ingatannya. Kapasitas ini mempengaruhi siasat siswa dalam rangka menemukan kembali hal-hal yang telah tersimpan. Siasat kognitif sama dengan proses berpikir siswa sendiri.
Kelima ragam ini belajar ini diperoleh dengan cara yang berlainan, yaitu masing-masing memerlukan keterampilan prasyarat yang berbeda dan perangkat langkah proses kognitif yang berbeda pula yang disebut kondisi belajar internal.
(Teori Belajar dan Pembelajaran, Udin S. Winataputra, 3.31)

2.5.2  Proses Kognitif Dalam Belajar
Menurut Gagne, ada sembilan tahap pengolahan (proses) kognitif yang terjadi dalam belajar yang kemudian disebut fase-fase belajar. Fase-fase belajar ini kemudian digolongkan ke dalam, fase persiapan untuk belajar, fase perolehan, dan perbuatan, dan alih belajar. Ke sembilan tahapan ini harus dilakukan secara berurutan dan setiap tahap belajar perlu didukung oleh suatu peristiwa pembelajaran tertentu agar pada setiap fase belajar menghasilkan aktivitas (proses belajar) yang maksimal dalam diri siswa. Fase-fase belajar ini sangat penting karena selalu ada dalam setiap tindakan belajar dan digunakan secara berlainan pada ragam belajar yang berlainan pula.
(Teori Belajar dan Pembelajaran, Udin S. Winataputra, 3.32)
Peristiwa pembelajaran diasumsikan sebagai cara-cara yang perlu diciptakan oleh guru dengan tujuan untuk mendukung proses-proses belajar (internal) di dalam diri siswa. Hakikat suatu peristiwa pembelajaran untuk setiap pembelajaran-pembelajaran berbeda-beda, bergantung pada kapabilitas yang diharapkan atau harus dicapai sebagai hasil belajar. Kesembilan peristiwa pembelajaran yang ada pada setiap fase belajar dapat diuraikan sebagai berikut.
a.    Membangkitkan perhatian. Kegiatan paling awal dalam pembelajaran adalah menarik perhatian siswa agar mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir pelajaran. Perhatian siswa dapat ditingkatkan dengan memberikan berbagai rangsangan sesuai dengan kondisi yang ada, misalnya dengan perubahangerak badan (berjalan, mendekati siswa, dan lain-lain), perubahan suara, menggunakan berbagai media belajar yang dapat menarik perhatian dan menunjukan atau menyebutkan contoh-contoh yang ada didalam kelas atau diluar kelas, dan lain-lain.
b.   Memberitahukan tujuan pembelajaran pada siswa. Agar siswa mempunyai pengharapan dan tujuan selama belajar maka kepada siswa perlu dijelaskan tujuan apa saja yg perlu dicapai selama pembelajaran, mafaat materi yang akan dipelajari bagi siswa, dan tugas-tugas yang harus diselesaikan selama pembelajaran. Keuntungan menjelaskan tujuan adalah agar siswa dapat menjawab sendiri pertanyaan apakah ia telah belajar? Apakah materi yg dipelajari telah dikuasai? Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat membangkitkan harapan dalam diri siswa tentang kemampuan dan upaya yang harus dilakukan agar tujuan tercapai.
c.    Merangsang ingatan pada materi prasyarat. Bila siswa telah memiliki perhatian dan pengharapan yang baik pada pelajaran,guru perlu mengingatkan siswa pada materi apa saja yang telah dikuasai sehubungan dengan materi yang akan diajarkan. Dengan pengetahuan awal yang ada pada memori kerjanya diharapkan siswa siap untuk membuat hubungan antara pengetahuan yg lama dengan pengetahuan yang baru yang akan dipelajari. Ada banyak cara yang dapat dilakukan guru untuk mengigatkan siswa pada materi yang telah dipelajari, misalnya dengan mengigatkan siswa pada topik-topik yang telah dipelajari dan meminta siswa untuk menjelaskan secara singkat.
d.   Menyajikan bahan perangsang. Peristiwa pembelajaran keempat adalah menyajikan bahan kepada siswa berupa pokok-pokok materi yang penting yang bersifat kunci. Sebelum itu guru sudah harus menentukan bahan apa yang akan disajikan, apakah berupa informasi verbal, keterampilan intelektual, atau belajar sikap. Berdasarkan jenis kemampuan/bahan ini maka dapat dipilih bentuk kegiatan apa yang akan disajikan sehingga proses pembelajaran berjalan lancar. Misalnya bila akan mengajarkan sikap, pilihlah bahan yang berupa model-model perilaku manusia. Bila akan mengajarkan keterampilan motorik, demonstrasikan contoh bahan keterampilan tersebut dan tunjukan caranya secara tepat.
e.    Memberi bimbingan belajar. Bimbingan belajar diberikan dengan tujuan untuk membantu siswa agar mudah mencapai tujuan pelajaran atau kemampuan-kemampuan yang harus dicapainya pada akhir pelajaran. Misalnya, bila siswa menguasai konsep-konsep kunci, berilah cara mengingat konsep-konsep tersebut misalnya dengan menjelaskan karakteristik dari setiap konsep. Bila siswa harus menguasai suatu keterampilan tertentu maka bimbinglah dengan cara menjelaskan langkah-langkah yang harus ditempuh untuk menguasai keterampilan tersebut. Dalam hal ini bimbingan belajar harus diberikan sesuai dengan apa yang dibutuhkan siswa beserta kesulitan-kesulitannya.
f.     Menampilkan unjuk kerja. Untuk mengetahui apakah siswa telah mencapai kemampuan yang diharapkan, mintalah mereka untuk menampilkan tindakannya dalam bentuk tindakan yang dapat diamati oleh guru. Misalnya, bila ingin mengetahui kemampuan informasi verbal siswa, beri siswa pertanyaan-pertanyaan yang dapat mengukur tingkat penguasaanya atau bila ingin mengetahui keterampilan siswa maka mintalah mereka melakukan suatu tindakan tertentu. Jawaban yang diberikan siswa hendaklah sesuai dengan kemampuan yang diminta dalam tujuan pembelajaran.
g.    Memberikan umpan balik. Memberikan umpanbalik merupakan fase belajar yang terpenting. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik umpan balik diberikan secara informatif dengan cara memberikan keterangan tentang tingkat untuk kerja yang telah dicapai siswa. Misalnya, jelaskan jawaban yang sudah lengkap dan yang perlu dilengkapi atau dipelajari kembali oleh siswa dengan cara “sudah baik”, “pelajari kembali”, atau “lengkapi”. Dan lainlain.
h.   Menilai untuk kerja. Merupakan peristiwa pembelajaran yang bertujuan untuk menilai apakah siswa sudah mencapai tujuan atau belum. Untuk itu perlu dibuat alat penilaian yang relevan dengan tujuan sehingga dapat untuk mengukur tingkat pencapaian belajar siswa.
i.      Meningkatkan retensi. Peristiwa pembelajaran terakhir yang harus dilakukan guru adalah upaya untuk meningkatkan retensi dan alih belajar. Guru perlu memberikan latihan-latihan dalam berbagai situasi agar siswanya dapat mengulangi dan menggunakan pengetahuan barunya kapan saja jika diperlukan.
Menurut Gagne, yang terpenting dalam pembelajaran adalah menciptakan suatu kondisi pembelajaran (eksternal) yang dirancang untuk mendukung terjadinya proses belajar yang bersifat internal.
(Teori Belajar dan Pembelajaran, Udin S. Winataputra, 3.33-3.36)


Daftar Pustaka

Dian, Rappel. 2007. Perbedaan Hasil Belajar Fisika antara Pembelajaran Teori Ausubel dengan Pembelajaran Konvensional di SMAN 13 Medan, Jurusan Fisika, Program Studi Pendidikan Fisika. Medan: Universitas Negeri Medan.
Hartini, Eveline. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia.
Kasim, Anwar. 2010. Psikologi Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta.
Santrock, John. 2002. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup Jilid 1 Edisi 5. Jakarta: Erlangga.
Thobroni, Mustofa. 2011. Belajar dan Pembelajaran: Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Udin S. Winataputra, dkk. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.


Artikel Terkait:

Share this article :

Facebook Comment

Thanks For Your Comments, Don't forget to follow me and I will follow you!

+ komentar + 1 komentar

8 Mei 2014 00.40

alhamdulillah
terimakasih

Poskan Komentar

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Copyright © 2009-2013. AyoBukaSaja.com - Some Rights Reserved
Proudly powered by Blogger