Pendidikan untuk Korupsi

 

Sebenarnya gue pengen posting Pendidikan untuk Korupsi ini di twitter aja, tapi karena gue lagi males nulis pake hastag #korupsi berulang-ulang, makanya beberapa paragraf awal dari artikel ini udah gue posting di twitter. Ok, let’s go to main article.

Pendidikan untuk korupsi sudah ada atau diajarkan sejak kita sekolah, SD mungkin. Mungkin banyak dari kita yang nggak menyadari itu, atau sengaja untuk tidak menyadarinya. Itulah yg menyebabkan budaya korupsi selalu bereproduksi alias nggak ada matinya,selalu dilestarikan, mati satu tumbuh berjuta-juta. Atau bisa kita katakan dipenjara satu, masih berjuta-juta sedang beraksi.

Oke, go back to zamannya kita SD, orientasi sekolah kita sudah salah, NILAI BAGUS adalah orientasi dan prioritas utama. Bukan ILMU. Bedanya gini, kalo lo sekolah orientasinya ilmu, lo mau dapat nilai jelek it’s fine (you will think it’s no problem), nilai bagus ya bersyukur, yg penting ILMU DAPAT.  Tapi kalo sekolah lo orientasinya nilai, lo dapat ilmu atau nggak itu urusan belakang, yg penting NILAI BAGUS. 

Dengan mudah lo mengatakan “Sekolah kan yang penting lulus dan nilai bagus.” Sebenarnya yang bikin kita merasa harus dapat nilai bagus itu ada banyak, bisa motivasi internal maupun eksternal. Tapi kalo menurut gue ada satu lagi, ya, ketiga adalah motivasi eksternal jadi internal. Bakal gue bahas satu-satu. Tapi pasti banyak yg bertanya-tanya, apa hubungannya sama pendidikan untuk korupsi? Ok sabar, entar lo juga tahu.

Motivasi Internal

Motivasi ini datangnya dari dalam diri lo sendiri. Ini semacam niat yang ikhlas tanpa paksaan untuk berusaha dapat nilai yang bagus. Motivasi ini biasanya memiliki efek yang bagus buat diri lo, karena lo akan berusaha dengan ikhlas dengan penuh semangat untuk memperoleh nilai bagus, dan biasanya orang-orang yang memiliki motivasi ini rajin berdoa dan beribadah, serta sadar akan tujuan hidup. Parahnya, nggak banyak orang yang memiliki motivasi ini, jarang, atau mungkin malah nggak ada (What? masak sih?). Gue sih nggak bisa bayangin, kalo misalnya lo lagi main nih sama temen lo, misal main PS (PlayStation bukan PlayingS*x), masak iya sih tiba-tiba lo berhenti gara-gara lo kejatuhan ilham dan tiba-tiba lo mendadak nggak mau main terus lo milih belajar. Jempol* buat lo yang bisa kaya gini.

Motivasi Eksternal

Motivasi ini datangnya dari luar, bisa dari orang tua, guru, pacar, temen, hewan piaran (eith, mana bisa hewan piaraan? sorry ngaco gue.) Iya, motivasi ini bisa berefek positif dan juga negatif. Tapi lebih banyak negatifnya sih. Loh iya, nggak percaya lo? Ortu lo dari lo SD menuntut lo biar selalu dapat nilai bagus setiap lo ulangan, lo sampai disuruh les ini itu, privat ini itu, ya ampuuun, hidup lo dari kecil udah diajarin ngeles mulu. 

Kalo lo dapat nilai jelek, lo dimarahin, atau paling nggak lo diancam nggak jadi dibeliin sesuatu. Iya, orang tua lo dari lo kecil udah ngajarin lo suap-menyuap. Terus guru lo, guru lo bakal marah kalo nilai lo jelek atau paling tidak lo dibenci minimal benci di dalam hati kecuali kalo lo selalu ngasih hadiah ke dia. Terus pacar, kalo lo lagi jatuh cinta sama cewek, lo pengen terlihat pintar di mata dia. 

Kalo lo sadar sih lo bakal belajar lebih giat, tapi terkadang lo juga nggak sabaran, bayar aja temen buat ngerjain PR. Oke, yang terakhir temen, pernah nggak sih lo punya temen yang selalu memotivasi lo buat belajar? Ngasih semangat, nasihatin lo, “Ayo belajar yang rajin, biar dapat nilai yang bagus, biar lo dikasih duit buat jalan-jalan liburan nanti!”. Jempol* buat temen lo yang tipenya kaya gini.

Motivasi Eksternal jadi Internal

Oke, kalo yang ketiga ini nih pendapat gue, terserah lo mau setuju apa kagak. Motivasi ini sebenarnya efek jangka panjang dari motivasi eksternal dan menumbuhkan semangat internal. Kenapa bisa begitu? Karena lo dari kecil terus-menerus didoktrin sama ortu lo, guru lo, pacar lo mungkin (bangke’ kalo pacar gue kaya gini!), temen lo, atau siapa pun yang berada di sekitar lo bahwasanya lo sekolah harus dapat nilai yang bagus, lulus dengan nilai yang bagus, atau cukup lulus saja. Pada akhirnya orientasi NILAI BAGUS ini akan melekat di otak lo, tertanam dalam hati lo, menjadi langkah hidup lo, apalagi ya? Ini yang membuat lo untuk menghalalkan segala cara untuk memperoleh NILAI yang BAGUS. Umumnya sih nyontek, beli jawaban, atau hal-hal lain yang dapat kita kategorikan sebagai tindakan nggak baik. Motivasi yang seperti ini nih biasa terjadi pada anak-anak SMA dan Mahasiswa. Lo jadi berpikir bahwa ILMU itu nggak penting, yang penting NILAI. Padahal “padi itu semakin berisi semakin merunduk”, artinya “orang yang berilmu itu akan berkarakter baik”. Silahkan diresapi sendiri maknanya. Intinya, orang-orang yang udah punya motivasi ketiga ini adalah orang yang tidak memiliki rasa. Rasa apa? Ya malu, rela berkorban, berbangsa dan bernegara, menerima perbedaan, persahabatan dan ikhlas. Semua orang akan lo benci kalo menghalangi lo. Temen bisa jadi musuh hanya gara-gara tidak membantu lo mendapat NILAI BAGUS. Jempol* buat yang ngomong nggak kaya gini.

Sekarang, lo pasti bilang bahwa sistem lah yang memaksa kita kaya gini. Kalo lo tau sistemnya salah kenapa lo jadi ikut berbuat salah. Perubahan tidak dimulai dari sistem, tetapi perubahan dimulai dari diri-sendiri. Jika yang sendiri-sendiri ini adalah se-Indonesia, bukan tidak mungkin sistem akan kita ubah bersama-sama dalam pribadi yang sudah siap dan mantap.

Keterangan:

Jempol* = Munafik

Bahkan sampai habis artikel ini masih ada yang bertanya: Dimana pendidikan untuk korupsinya? Jempol* buat yang masih nanya kaya gini.