Mengapa Kita Membedakan Beriman dan Tidak Beriman

Jika kita terlahir dalam keadaan tidak beriman, adakah kemungkinan kita akan beriman?

Bagaimana jika kita sudah terlalu fanatik dengan ketidakberimanan kita seperti fanatiknya orang-orang yang terlahir dalam keadaan beriman?

Bukankah kebenaran adalah apa yang ada di dalam pemahaman, meskipun kita tidak memahami apa yang ada di dalam pemahaman.

Lalu, di saat kita berusaha untuk memahami apa yang tak terpahami dari yang ada di dalam pemahaman, kita telah dibatasi oleh pemahaman itu sendiri. Yang membuat kita seolah-olah memahami apa yang tak terpahami. Dan membungkam akal agar tidak bertanya tentang apa yang kita pahami di luar pemahaman. Maka tidak ada yang lebih baik untuk dipahami daripada apa yang ada di dalam pemahaman.

Dapat disimpulkan bahwa tidak ada orang yang tidak beriman, bahkan kita tidak bisa menyebut terdapat orang beriman. Yang ada hanyalah orang-orang yang dibatasi oleh apa yang tak terpahami dari apa yang ada di dalam pemahaman. Dan orang-orang yang berusaha melampaui batas dari apa yang dibatasi oleh apa yang tak terpahami di dalam pemahaman.